Diary of The Week #22: My Personal Thoughts of Antologi Rasa The Movie

Diary of The Week #22: My Personal Thoughts of Antologi Rasa The Movie

Posted by Jane Reggievia on 2019-02-18T15:36:00.001+07:00

Beradaptasi dengan rutinitas setelah pulang liburan itu susah-susah gampang, ya. Jiwa masih melayang-layang di tempat liburan, kemudian seolah-olah dapet panggilan "earth to Jane, again... earth to Jane..." *reality slap*

Tapi minggu kemarin ini cukup lancar kok, udah bisa update blog lagi, ngurus perintilan domestik dan hal lainnya.

Hari Minggu kemarin, aku pergi nonton bioskop sendirian untuk kedua kalinya. Nagih banget ya ternyata nonton bioskop sendirian itu. Walaupun agak sebel juga karena pas nunggu film mulai, malah ada trailer film horror dan terpaksa harus nutup mata, malah di sebelah-sebelah kagak ada orang. Kemarin satu studio isinya cuma tiga orang, termasuk aku. Sepi banget! Udah wanti-wanti bakal nonton sendirian nih, gara-gara cuma aku seorang yang duduk di depan studio nunggu pintu dibuka. 

Emang nonton film apa, sih? 

Film adaptasi novel Ika Natassa yang kedua, Antologi Rasa. Sebelumnya, Critical Eleven udah naik layar lebar duluan. Aku pernah cerita dikit tentang filmnya di sini. 

Baca: Diary of The Week #3: What a Week!

Kemarin ini sempet cerita dikit di IG story, Antologi Rasa adalah karya Ika Natassa favorit kedua setelah Twivortiare. Jujur aja, sih, pas nonton trailer-nya agak-agak gimana gitu, nggak segreget waktu nonton trailer-nya Critical Eleven yang cukup breathtaking karena syutingnya aja udah di NYC kan yaaa, terus OSTnya juga wow banget. 

Sejak pengumuman cast Antologi Rasa aku juga yang ngerasa "ohh?" gitu doang, sih. Jejeran nama pemerannya biasa aja, kecuali abang Refal Hady yang udah bikin hati ini ketar-ketir karena doi memerankan karakter Ruly. 

So, how was the movie? 

Brutally honest, I don't really recommend to watch this, hahaha. Serius, mending baca novelnya aja deh. 

Aku bukan pakar perfilman, nggak ngerti apa-apa juga tentang proses pembuatan film, jadi nggak bisa sok komentar yang gimana banget, namun sebagai penonton dan juga penggemar novelnya, aku agak menyayangkan film Antologi Rasa ini. 

Pertama, monolog karakternya ganggu sejak film dimulai. Novelnya memang memakai sudut pandang pertama dan menurutku itu yang bikin keseluruhan novel Antologi Rasa so special. Regretfully, not for the movie. 

Karakter Keara yang cukup kuat di novel malah keliatan jadi biasa aja di film. Padahal akting Carissa Perusset udah kece lho, she's so stunning by the way. Karakter Keara ini ngingetin aku sama seorang teman, dari cara bicaranya, prinsip hidup yang dipegang, kisah cinta, tuh udah mirip banget sama si teman ini. Selama nontonin Carissa as Keara, aku malah kebayang-bayang si muka teman, mau bilang ke yang bersangkutan takut ke-GR-an hahaha. 

But anyway, aku kurang tau pasti apa yang bikin si Keara di film ini agak-agak plain, apa masalah pengembangan karakter di naskah? Sekali lagi, aku hanya penggemar film, jadi ini review ala kadarnya aja, tapi masih berusaha untuk jujur. 

Kedua, penempatan lagu di beberapa scenes bikin adegan itu sendiri terkesan 'murahan' dan corny. Kan sebel jadinya, mau ikutan emosional jadi nanggung 😅 

Despite of all disappointment of the movie, aku cukup terhibur dengan akting Herjunot Ali sebagai Harris. Udah lupa banget kapan terakhir nonton aktingnya Junot di film maupun sinetron, jadi begitu nama doi diumumkan sebagai Harris, I had zero expectation. Ternyata dasar emang dia Harris banget, hahahaha. Ada 1-2 adegan di mana berhasil bikin aku berkaca-kaca karena aktingnya, salah satunya scene di hotel setelah insiden di Zouk malam sebelumnya. Rasa iba pada Harris sama seperti waktu baca novelnya. 

Akhir kata, seperti yang kubilang di IG story, the movie was good, but not the best. Aku tetap salut dengan perjuangan dan kerja keras Ika Natassa dan kru lainnya dalam menghasilkan film ini. Dengar-dengar produksi film adaptasi itu emang nggak mudah, apalagi dengan adanya pecinta versi novel garis keras, somehow menjadi beban berat buat para tim produksi film. Kak Ika tetap keren lah! Nulis buku aja susah (buat gue), apalagi bisa dijadiin film gini. You still one of my favorite author ever. 

Selanjutnya, bakal ketemu Om Beno dan Alexandra di Twivortiare the movie nih!