Worthy Monday #12: Why I Should Stop Multitasking

Worthy Monday #12: Why I Should Stop Multitasking

Posted by Jane Reggievia on 2020-08-18T13:08:00.029+07:00

Suatu hari, aku menulis sebuah komentar di salah satu video Gita Savitri yang berjudul Multitasking adalah MitosHence, postingan hari ini terinspirasi dari video tersebut. Karena aku menyadari sudah menekuni multitasking sejak anak pertama lahir, and honestly I'm not proud of this habit. 

Btw, komentar yang kutulis adalah berikut ini: 

"As a mom with a toddler, multitasking itu udah seperti auto mode ketika beraktifitas. Contoh paling sering, adalah di pagi hari di saat harus menyiapkan sarapan, at the same time harus menyiapkan bekal sekolah anak, sambilan bikin kopi juga untuk diri sendiri (supaya melek). Nggak sekali dua kali multitasking kayak gini bikin ceroboh; susu buat kopi meluap di atas kompor di saat ingin flip telor ceplok yang lagi digoreng, atau minyak buat masak di atas panci mendadak gosong karena nyambi potong daging. 

Hal lainnya seperti nonton video Youtube sambil scrolling kolom komentar juga habit yang buruk menurut gue. Ini aja nahan banget untuk nonton sampai selesai dulu, baru deh ninggalin komentar."

Menurut masyarakat umum, ibu-ibu super itu harusnya bisa multitasking. Meanwhile, aku baca komentar sendiri di atas rasanya ngos-ngosan. Ampunnn deh, kenapa, sih, jadi orang rempong banget. Ini masih perkara dapur. Belum hal lain seperti ketika bekerja di komputer. Niatnya buka Chrome untuk edit blogpost, tab yang dibuka banyak banget. Ya buka Spotify untuk dengar lagu, buka beberapa blog teman sekalian blogwalking, cek email, buka Whatsapp web juga, kadang-kadang nyambi nonton video Youtube. Pokoknya clutter banget deh browser aku ketika kerja. Padahal tujuan awalnya cuma satu: nulis blogpost


Kenapa, sih, kita senang multitasking


Pada dasarnya, manusia itu cepat bosan dan suka mendapat stimulasi. Nggak bayi aja yaa, bunda, yang butuh stimulasi, orang dewasa pun demikian. Alasan klasik lainnya, kebanyakan orang multitasking adalah karena efisiensi waktu. Kalau bisa melakukan beberapa pekerjaan dalam waktu bersamaan, kenapa nggak? 

Siapa di sini yang sering sambil nonton Youtube, sambil scrolling kolom komentar? Ini sering terjadi kalau aku sedang nonton video yang isinya cuma ngomong aja. Entah kenapa kok bosen aja gitu cuma ngeliatin videonya, kan yang penting dengar suaranya. Rasanya pengen nyambi melakukan hal lain, tapi aplikasi Youtube nggak bisa pop-up frame seperti dengar podcast di Spotify. Kecuali kalau nontonnya di laptop. Gara-gara nyambi ini itu, nggak jarang juga aku harus rewind video beberapa kali karena kelewat poin pentingnya karena keasikan baca komentar. Video yang harusnya selesai dalam 15 menit, bisa 20 menit karena kebiasaan ini. 

Tapi apa iyaa, ketika semuanya itu dilakukan bersamaan, waktu kita jadi lebih ringkes dan semuanya bisa selesai tepat waktu? 


Nyatanya tidak, sob. *lah kayak iklan apa ya ini* 

Seperti yang kubilang, nggak sekali dua kali aku mengalami panci gosong ketika nyambi melakukan hal lain meski masih di dapur yang sama. Bukannya cepat, aku malah harus mencuci ulang panci gosong tersebut, nuang minyak lagi, dan nyemplungin makanan yang akan digoreng. Demikian juga dengan susu yang meluap, bukan cuma cangkirnya aja yang harus dicuci, kompornya yang belepotan susu harus dilap juga. Harusnya cepet, malah ribet. 

Begitu juga dengan urusan di komputer. Blogpost yang harusnya kelar dalam satu jam, molor jadi dua bahkan mungkin dilanjut keeseokan harinya, karena keasikan blogwalking, nggak sengaja nemu video bagus di Youtube dan sebagainya. Apalagi kalau split screen-nya sambil nonton drakor. Yaudah deh, kelarrrr... kelar dramanya, blogpost-nya kagak ๐Ÿ˜‚

Nggak jarang juga, multitasking bikin aku cepat stres dan otaknya terasa panas. Ibarat kartun, di atas kepalaku kayak ada asep-asep mengepulnya gitu lho. 

Jadi, seharusnya kita multitasking atau tidak? 


Multitasking itu memang nggak disarankan, karena sebenarnya manusia nggak didesain untuk mengerjakan berbagai banyak hal dalam waktu yang bersamaan. Otak kita akan cepat lelah jika dipaksa melakukan banyak hal dalam satu waktu. Menurut sebuah penelitian dari University of California San Fransisco, multitasking membawa efek negatif negatif untuk memori jangka pendek, alias bikin kita cepat lupa. Oh pantess... gue sering lupa naroh hape di mana, padahal lagi diketekin ๐Ÿ™„Bahkan, Arianna Huffington aja mengatakan multitasking ini salah satu penyebab kemunduruan masyarakat mondern. Ngeri, ya! 

So, instead of multitasking, aku mulai mencoba untuk melakukan kebalikannya, yaitu unitasking (doing a single task at a time). 

I know, I know. Mungkin aku bisa mendengar suara emak-emak berkata, "Mana bisaaaaa. Kerjaan numpuk dong!". Maka dari itu, aku coba membagikan tips-tips mudah supaya bisa membiasakan diri dalam unitasking

  • Bikin to-do list maksimum 3-4 kegiatan yang harus dilakukan hari itu. Dari sekian banyak pekerjaan yang harus dilakukan dalam sehari, pasti ada dong yang paling diprioritaskan. Nah, itu bisa dimasukkin ke daftar to-do ini. 
  • Time blocking atau menyusun jadwal spesifik setiap harinya. Misalnya, pukul 7 masak dan sarapan, pukul 7.30-8.30 HBL anak (nah, biasanya aku nyambi nih di sini, sekarang coba ingin fokus aja nemenin Josh HBL biar anaknya juga nggak ke-distract dengan emaknya sendiri), pukul 9.00 screen time anak, dan seterusnya. Dengan membuat jadwal spesifik ini, kita bisa mencoba untuk mendisiplinkan diri melakukan hal sesuai jamnya. Kalau misal jam tersebut waktunya beberes, ya pakailah untuk beberes, jangan sambilan yang lain.  
  • Matikan notifikasi hape atau jauhkan dari jangkauan saat bekerja. Hape itu distraksi paling besar, iya nggak, sih? Niatnya cuma pengen bayar tagihan lewat e-commerce, eh malah browsing belanjaan selama satu jam lebih. Kalau sedang ingin fokus, jangan letakkan hape dekat-dekat area kerja. Sekian lama punya hape, aku baru tau ada fitur "do not distrub" yang bisa dipakai. Kalau mau ekstrim, ya matikan saja hapenya. 

Selain meningkatkan produktifitas dan fokus, unitasking membantu kita lebih rileks dan nggak parnoan. Sebagai ibuk-ibuk yang mudah anxious, multitasking bisa aja memperburuk keadaan. Nggak jarang ketika sedang kerja serabutan, aku jadi gampang marah-marah, anak dan suami kena imbas dan sebagainya. 

Gapapa kalau nggak bisa multitasking bukan berarti ibu lemah. Justru ibu super itu yang bisa menyelesaikan tugas dengan baik and feeling happy ๐Ÿค—

***
Demikian untuk edisi Worthy Monday kali ini. Sengaja naik tayangnya hari Selasa, soalnya kemarin bertepatan dengan Hari Kemerdekaan Indonesia, kok kayaknya nggak matching aja nge-post tulisan ini๐Ÿ˜‚

Teman-teman sendiri bagaimana, #TimMultitasking atau #TimUnitasking? ๐Ÿ˜Š